Uji Kompetensi Keperawatan D3 dan Ners Indonesia Edisi 190

10/11/2018 08:14:00 AM

Contoh Soal Uji Kompetensi Keperawatan D3 dan Ners Indonesia Edisi 190


Berikut ini adalah Latihan Uji Kompetensi Perawat (UKOM) bagian ke 190 beserta kunci jawabannya serta pembahasannya

Uji Kompetensi Keperawatan D3 dan Ners Indonesia terbaru beserta kunci jawabannya tahun 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025, 2026, 2027, 2028, 2029, 2030, 2031, 2032
Indonesia in ring of fire and have many active mount, we are nurse must be always ready for probability. Nurse as health care partner

Hai semuanya, apa kabar kalian. Kali ini bertemu lagi dengan saya yang masih setia mengiringi teman-teman agar lulus Uji Kompetensi Keperawatan, dan saya harap dengan saya membagikan contoh soal-soal berserta kunci jawabanan dan pembahasannya ini dalat meningkatkan pengetahuan, kemampuan, kompetensi serta profesionalitas kita didalam dunia keperawatan nantinya. Yuk langsung saja kita pelajari contoh soal-soal UKOM Perawat dibawah ini 


1. Seorang pria berusia 42 tahun dirawat di Rumah Sakit  karena mengalami trauma kepala. Pada saat dikaji pasien hanya bisa membuka mata dengan rangsang suara, kemudian tangannya diberi rangsangan nyeri dan melokalisasi rangsang nyeri yang diberikan dan pasien mengeluarkan suara yang membingungkan dan tidak tahu dimana.
Berapakah nilai total GCS pasien tersebut?

a. 15
b. 14
c. 13
d. 12
e. 11

Kunci Jawaban: d. 12
Pembahasan soal : 
Pasien dengan trauma kepala seringkali mengalami penurunan kesadaran. Untuk menilai tingkat kesadaran dapat menggunakan GCS atau glasgow coma scale. Pada GCS ada 3 parameter yang dinilai yaitu respon membuka mata atau Eyes opened (E),respon motorik (M) dan respon verbal (V). pada kasus soal diatas E = 3, M = 5, V = 4

Panduan Cara Pemeriksaan GCS :
Eye opened (mata)
a. spontan 4 Mata terbuka secara spontan
b. rangsangan suara 3 Mata terbuka terhadap perintah verbal
c. rangsangan nyeri 2 Mata terbuka terhadap rangsangan nyeri
d. tidak ada 1 Tidak membuka mata terhadap rangsangan apapun

Respon verbal
a. orientasi baik 5 Orientasi baik dan mampu berbicara
b. bingung 4 Disorientasi dan bingung
c. mengucapkan kata” yang tidak tepat 3 Mengulang kata-kata yang tidak tepat secara acak
d. mengucapkan kata-kata yang tidak jelas 2 Mengerang atau merintih
e. tidak ada 1 Tidak ada respon

Respon motorik
a. mematuhi perintah 6 Dapat bergerak  mengikuti perintah
b. melokalisasi 5 Dapat melokalisasi nyeri  (gerakan terarah dan bertujuan ke arah rangsang nyeri)
c. menarik 4 Fleksi  atau menarik saat di rangsang nyeri contoh: menarik tangan saat kuku di tekan
d. fleksi abnormal 3 Membentuk posisi dekortikasi. Contoh: fleksi pergelangan tangan
e. ekstensi abnormal 2 Membentuk posisi deserebrasi.contoh : ekstensi pergelangan tangan
f. tidak ada 1 Tidak ada respon, saat di rangsang apapun.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem persyarafan (p.65 – 66),Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Lumbantobing, S.M (2012), Neurologi klinik: Pemeriksaan fisik dan mental (p: 8 – 10), Jakarta, FKUI.



2. Seorang laki-laki dengan usia 39 tahun dirawat di Rumah Sakit hari ke 17 setelah post operasi rekonst plat/pin tibia dekstra os fraktur. Saat dikaji pasien mengatakan masih mengalami nyeri ringan dan sudah diperbolehkan latihan berjalan dengan menggunakan kruk. Saat ini perawat sedang melatih pasien menggunakan kruk yang baik dan benar.
Bagaimanakah posisi kaki pasien yang sakit saat berjalan dengan menggunakan kruk?

a. berada di belakang kruk
b. maju sejajar dengan kruk
c. diayun mengikuti arah kruk
d. menjadi tumpuan saat melangkah
e. diberi tumpuan dengan menggunakan kruk

Kunci Jawaban: e. diberi tumpuan dengan menggunakan kruk.
Pembahasan:
Pada pasien fraktur yang telah di operasi pemasangan plat maka kaki tersebut harus diimmobilisasi dulu dan ketika berjalan tidak boleh diberikan beban berlebihan atau ketika berjalan harus diberikan tumpuan dengan menggunakan kruk tersebut, sehingga beban tubuh pasien tidak langsung bertumpu pada kaki tersebut atau dialihkan kepada kruk. Hal ini dimaksudkan agar kaki yang baru dioperasi tidak harus menahan beban tubuh secara keseluruhan karena sedang dalam proses penyembuhan tulang, dengan demikian proses penyembuhan tulang nya dapat berjalan baik dan sempurna.

Rujukan:
  • Abdul Wahid (2013). Asuhan Keperawatan  dengan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.1 – 58), Jakarta, Trans Info Media.
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.57 – 58), Jakarta, EGC.
  • Kozier, Erb, Berman and Snyder, Alih Bahasa: Esti Wahyuningsih, dkk. (2011). Buku  Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses dan praktik. Edisi 7, volume 2 (p. 649 -653). Jakarta, EGC.
  • Suratun, Heryati, Santa Manurung, Een Raenah, (2008). Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.195 – 204), Jakarta, EGC.



3. Seorang laki-laki dengan usia 70 tahun dirawat di Rumah Sakit hari ke 4 mengeluh lemas, pusing disertai sering kencing dan haus. Hasil pemeriksaan fisik yaitu : kesadaran lethargis, badan tampak kurus, kulit pruritus. Hasil pemeriksaan TTV yaitu : TD 100/60 mmHg, HR = 72 kali/menit, RR = 18 kali/menit dan T = 36,7 derajat Celsius.
Manakah data spesifik yang menunjukkan pasien kemungkinan mengalami DM?

a. Kulit pruritus dan badan kurus
b. Lethargis dan kulit pruritus
c. Badan kurus dan lethargis
d. Sering kencing dan haus
e. Pusing dan lemas

Kunci Jawaban: d. Sering kencing dan haus
Pembahasan:
Pada DM terjadi hyperglikemia, terjadi osmotik diuresis sehingga dapat menimbulkan banyak kencing (poliuria) dan konsekwensinya mendorong keinginan minum/merasa haus (polidipsi).

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem persyarafan (p.65 – 66),Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pen dokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
  • Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Endokrin (p.100 – 109), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.



4. Seorang wanita berusia 25 tahun yang cantik, mulus, jomblo, kencang, putih, tinggi, rambut lurus kemerahan, kulit putih, anak manager terkenal dirawat di Rumah Sakit karena menderita DM type I. Pasien sering mengeluh rasa lapar, haus, sering kencing terutama dimalam hari dan badan terasa lemas. Hasil pemeriksaan fisik diperoleh data: BB = 65 Kg, sementara itu TB = 211 cm. Tampak mukosa bibir kering dan terdapat luka (gangraen) didaerah jari kaki. Pasien mendapatkan therapi insulin dan saat ini anda akan melakukan injeksi insulin sesuai dengan program therapi.
Apakah tindakan yang harus dilakukan perawat sebelum melakukan injeksi insulin?

a. menghitung intake output
b. mengobservasi tanda-tanda vital
c. mengecek tingkat kesadaran pasien
d. memastikan makanan sudah siap berada di meja pasien
e. memberikan pendidikan kesehatan tentang diet pada pasien DM.

Kunci Jawaban: d. memastikan makanan sudah siap berada di meja pasien
Pembahasan:
Pada Diabetes mellitus terjadi kekurangan/ penurunan produksi hormon insulin oleh sel betha pulau langerhans di pankreas, sehingga terjadi kegagalan dalam menurunkan kadar glukkosa darah dan akibat nya terjadi hyperglikemi. Hyperglikemi akan menimbulkan dampak pada berbagai sistem tubuh dan di manifestasikan dengan rasa lapar (polifagi),  haus (polidipsi) dan banyak kencing (poliuria)  serta rasa lemas dan luka yang sulit sembuh (gangraen). Untuk mengatasi masalah tersebut tim dokter biasanya memberikan injeksi insulin, dengan tujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah setelah pasien mendapatkan intake makanan, untuk itu sebelum memberikan injeksi insulin harus dipastikan terlebih dahulu bahwa makanan sudah tersedia berada di meja pasien agar rentang waktu penyuntikan insulin dengan jam makan pasien tepat.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem persyarafan (p.65 – 66),Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pen dokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
  • Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Endokrin (p.100 – 109), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.



5. Seorang perempuan berusia 67 tahun dirawat di Ruamh Sakit karena mengalami DM tipe II, dan saat ini terdapat gangraen/ulkus pada ibu jari kaki nya. Pasien mengatakan sudah menderita DM selama 7 tahun dan ia tidak rutin kontrol atau memeriksa gula darah. Keluarga mengatakan pasien sering makan melebihi ketentuan diet, dan malas olahraga.
Apakah indikator utama keberhasilan perawatan pada kasus di atas?

a. pasien melakukan olah raga secara teratur.
b. luka gangraen di ibu jari kaki sembuh/tidak diamputasi.
c. pasien taat terhadap program diit yang harus dijalankannya
d. pasien melaksanakan kontrol gula darah secara rutin setiap bulan
e. adanya perubahan perilaku positip pasien terkait dengan penyakit nya.

Kunci Jawaban: e. adanya perubahan perilaku positip pasien terkait dengan penyakit nya.
Pembahasan:
Penyakit DM berkaitan dengan perilaku seseorang, apalagi pasien yang sudah 7 tahun menderita DM maka hal terpenting dari penatalaksanaan DM adalah perubahan perilaku nya, baik dalam makan (diet), kontrol gula darah, olahraga, dan dalam  memakan obat oral DM,  sehingga apabila sudah ada kesadaran dan terjadi perubahan perilaku positip dari pasien tersebut, maka penyakit DM yang diderita nya bisa dikendalikan dan terkontrol dengan baik.

Rujukan:
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pen dokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
  • Nabyl R.A. (2012). Panduan Hidup Sehat: mencegah dan mengobati Diabetes Mellitus, Yogyakarta, Aulia Publishing.
  • Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Endokrin (p.100 – 109), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.



6. Seorang wanita berumur 50 tahun dirawat di Rumah Sakit karena mengeluh nyeri saat menelan. Pada saat pemeriksaan daerah leher bagian depannya mengalami pembengkakan kedepan sebesar bola pingpong. Hasil pemeriksaan fisik lainnya menunjukkan : mata tidak exoptalmus dan tidak didapatkan palpitasi atau hiperhidrosis.
Apakah jenis pemeriksaan lab/diagnostik spesifik yang diperlukan pada kasus di atas?

a. USG.
b. urine lengkap
c. darah lengkap
d. photo Rontgen
e. Kadar T3 dan T4

Kunci Jawaban: e. Kadar T3 dan T4
Pembahasan:
Pada kasus di atas tampak nya pasien mengalami Goiter/struma nodosa/pembesaran kelenjar gondok, yang mungkin disebabkan oleh adanya peningkatan kerja tiroid (hiperthiroidsm), meskipun pada pada hasil pengkajian tidak tampak, sehingga untuk memastikan jenis gangguan nya maka pemeriksaan lab/diagnortik yang diperlukan adalah: pemeriksaan kadar T.3 dan T.4

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem persyarafan (p.65 – 66),Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pen dokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.726 – 742), Jakarta, EGC.
  • Rumahorbo H. (1999). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Endokrin (p.100 – 109), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.1220 – 1263), Jakarta, EGC.




7. Seorang laki-laki berusia 40 tahun dirawat di Rumah Sakit hari ke dua perawatan. Pasien mengeluh sulit menggerakan tungkai kanan setelah mengalami kecelakaan pekerjaan. Pada pemeriksaan kekuatan otot sendi terdapat keterbatasan gerak dan pada saat diminta tungkai nya digerakan: pasien tidak dapat menahan gravitasi.
Berapakah nilai kekuatan otot pasien tersebut?

a. 0
b. 1
c. 2
d. 3
e. 4

Kunci Jawaban: c. 2
Pembahasan:
Pemeriksaan kekuatan otot dapat dilakukan dengan menggunakan pengujian otot secara manual ( manual muscle testing/ MMT ). Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui kemampuan mengontraksikan kelompok otot secara volunter. Pemeriksaan kekuatan otot menggunakan MMT akan membantu penegakan diagnosis klinis, penentuan jenis terapi, jenis alat bantu yang diperlukan, dan prognosis. Penegakan diagnosis dimungkinkan oleh beberapa penyakit tertentu yang hanya menyerang otot tertentu pula.

Kriteria hasil pemeriksaan MMT adalah:
  • Normal (5) mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh, melawan gravitasi, dan melawan tahanan maksimal.
  • Good (4) mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh, melawan gravitasi, dan melawan tahanan sedang (moderat). 
  • Fair (3) mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh dan melawan gravitasi tanpa tahanan.
  • Poor (2) mampu bergerak dengan luas gerak sendi penuh tanpa melawan gravitasi.
  • Trace (1) tidak ada gerakan sendi, tetapi kontraksi otot dapat dipalpasi
  • Zero (0) kontraksi otot tidak terdeteksi dengan palpasi

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.57 – 58), Jakarta, EGC.


Sumber : www.perawatkitasatu.com dan Pedoman UKOM Perawat Indonesia


Demikianlah artikel kami yang membahas mengenai Uji Kompetensi Keperawatan D3 dan Ners Indonesia Edisi 190 ini, semoga apa yang telah kami berikan ini bermanfaat bagi teman-teman semua dalam meningkatkan pengetahuan, kecakapan, kompetensi dan profesionalitasnya dalma bekerja dan terutama bisa lulus Uji Kompetensi (UKOM) Keperawatan kedepan dengan lancar, aamiin. Sekian dari kami sampai jumpa lagi pada contoh soal berikutnya.

0 komentar