Latihan UKOM Keperawatan Indonesia Edisi 191

10/13/2018 06:45:00 AM

Latihan Uji Kompetensi (UKOM) Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban Edisi 191


Berikut ini adalah Latihan Uji Kompetensi Perawat (UKOM) bagian ke 191 beserta kunci jawabannya serta pembahasannya

Latihan Uji Kompetensi (UKOM) Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban
oh my god, forgive us from all disaster in my country

Hai semuanya, kembali lagi dengan kami yang masih setia memberikan contoh-contoh soal UKOM Perawat kepada teman-teman, dan tak terasa sudah ribuan contoh soal UKOM telah kami bagikan kepada teman-teman diblog ini, dan semoga kami bisa terus memberikan yang terbaik kepada teman-teman semua


1. Seorang perempuan dengan usia 50 tahun, masuk ke Rumah Sakit dan dirawat di ruang rawat orthopedi. Pasien mengeluh nyeri pada lutut kanan. Hasil pemeriksaan fisik yaitu terdapat pembengkakan di paha kanan didekat lutut. Hasil TTV menunjukkan TD = 110/70 mmHg, T =38 derajat celsius, RR = 18 x/menit, HR = 120 x/ menit.
Apakah masalah keperawatan prioritas pada pasien tersebut?

a. nyeri akut
b. kecemasan
c. intoleransi aktivitas
d. takut akan kehilangan
e. gangguan mobilitas fisik

Kunci Jawaban: a. nyeri akut
Pembahasan:
Pada kasus arthritis terjadi proses peradangan pada sendi dan respon dari proses infeksi adalah nyeri pada persendian terutama sendi yang sering dipakai bergerak, misal nya sendi lutut, apalagi sendi lutut merupakan sendi yang menopang tubuh kita, sehingga rasa nyeri akan terus dirasakan.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.



2. Seorang Laki-laki dengan usia 30 tahun dirawat di Rumah Sakit karena mengalami combustio. Perawat segera mengkaji untuk menentukan derajat luka bakar tersebut dan didapatakan data yaitu:  bagian yang terkena seluruh epidermis dan sebagian dermis, luka tampak pucat, kering, berlilin dan tidak memutih serta nyeri saat ditekan. Apakah derajat luka bakar yang dialami pasien tersebut?

a. derajat I
b. derajat II-a
c. derajat II-b
d. derajat II-c
e. derajat III

Kunci Jawaban : b. derajat II-a
Pembahasan:
Derajat luka bakar ditentukan berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh trauma panas. Hal ini sangat tergantung pada intensitas panas dan lamanya panas mengenai tubuh serta proses rambatan panas pada jaringan tubuh.
Berikut klasifikasi luka bakar berdasarkan grade luka bakar :
  1. Luka bakar grade I (superficial burn)Kerusakan jaringan terbatas pada kulit lapisan epidermis, secara klinis kulit tampak merah, kering dan terasa sakit.
  2. Luka bakar grade IIa (superficial par tial-thickness burn)Kerusakan jaringan mengenai sebagian dermis, folikel rambut dan kelenjar keringat tetap utuh, secara klinis kulit tampak merah/kuning, basah dengan bula, dan terasa sakit. 
  3. Luka bakar grade IIb (deep partial-thickness burn). Kerusakan jaringan mengenai sebagian dermis dan folikel rambut, hanya kelenjar keringat yang tetap utuh, secara klinis kulit tampak merah/kuning, basah dengan bula, dan terasa sakit.
  4. Luka bakar grade III (full thickness burn). Kerusakan jaringan mengenai seluruh lapisan dermis, secara klinisi kulit tampak putih, coklat, hingga hitam, kering, dan tidak sakit karena ujung – ujung saraf juga mengalami kerusakan.
Berdasarkan data vignette maka Kunci Jawaban yang tepat untuk kasus di atas adalah: B

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasien Luka Bakar (p.1 – 46), Jakarta, PT. Salemba Medika 
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.



3. Seorang laki-laki 27 tahun dirawat di Rumah Sakit akibat combustio. Pasien mengeluh nyeri dengan skala 8, nyeri didaerah luka dan disekitar luka. Hasil pemeriksaan fisik yaitu luka bakar derajat II dengan luas 50 %. BB = 56 Kg, TD = 80/60 mmHg, urine output 400 cc/24 jam, HR = 96 kali/menit dan RR = 26 kali/menit, serta T = 37,3 derajat celsius.
Apakah prioritas utama rencana keperawatan untuk kasus di atas?

a. observasi intake output
b. lakukan rehidrasi cairan
c. penuhi rasa nyaman pasien
d. observasi tanda-tanda vital
e. lakukan perawatan luka bakar

Kunci Jawaban: b. lakukan rehidrasi cairan
Pembahasan:
Pada luka bakar terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang mendorong keluarnya plasma dan protein ke jaringan, sehingga akan terjadinya edema (bullae) dan kehilangan banyak cairan intravaskuler. Kehilangan cairan juga disebabkan karena evaporasi yang meningkat 4 – 15 kali evaporasi pada kulit normal. Peningkatan metabolisme juga dapat menyebabkan kehilangan cairan melalui sistem pernafasan. Selain itu fungsi jantung juga dapat terpengaruh oleh luka bakar diataranya penurunan kardiak output, yang disebabkan karena kehilangan cairan plasma. Peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan plasma pindah ke ruang interstisial. Dalam 48 jam pertama setelah kejadian, perubahan cairan menyebabkan hypovolemia dan jika tidak di tanggulangi dapat menyebabkan pasien jatuh pada shock hypovolemia, penurunan urine output dan tanda-tanda vital. Dengan demikian prioritas utama rencana keperawatan sesuai dengan vignette ada lah melakukan segera rehidrasi cairan untuk mencegah kematian dengan cepat akibat kekurangan cairan.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasien Luka Bakar (p.1 – 46), Jakarta, PT. Salemba Medika 
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
  • Rospa Hetharia, (2009). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen (p. 54 – 90). Jakarta. Trans Info Media
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.



4. Seorang perempuan muda berusia 25 tahun dirawat di Rumah Sakit karen menderita combustio. Hasil pemeriksaan fisik yaitu BB = 50 kg, TB = 162 cm. Hasil pengkajian juga menunjukkan adanya luka bakar grade II di dada 7 %, kedua lengan 4 % punggung 25 %. Pasien rencananya mau dilakukan pemasangan infuse RL untuk mengatasi gangguan kebutuhan cairan.
Berapakah jumlah cairan yang harus diberikan kepada pasien selama 24 jam pertama?

a. 3600 ml
b. 4800 ml
c. 6000 ml
d. 7200 ml
e. 8400 ml

Kunci Jawaban: d. 7200 ml
Pembahasan:
Menurut Rumus Baxter untuk rehidrasi cairan akibat luka bakar adalah: BB x % luka bakar x 4 cc, dari kasus diketahui BB pasien = 50 Kg dan  prosentase luka bakar adalah 36 % hasil dari penjumlahan dada 7 % + kedua lengan 4 % + punggung 25 % Sehingga dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh: 50 x 36  x 4 cc = 7200 cc

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Christanti Effendi (1999). Perawatan Pasien Luka Bakar (p.1 – 46), Jakarta, PT. Salemba Medika 
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.



5. Seorang laki-laki berusia 48 tahun mengeluh gatal-gatal diseluruh tubuhnya terutama punggungnya. Ia pun datang ke puskesmas untuk berobat karena gatal-gatalnya. Perawat yang bertugas disana melakukan pengkajian didapatkan adanya dermatitis dengan krusta yang mulai  mengering.
Apakah prioritas  tindakan keperawatan untuk mengatasi krusta pada pasien diatas ?

a. lakukan kompres basah terbuka
b. lakukan kompres kering terbuka
c. lakukan kompres basah tertutup
d. lakukan kompres basah tertutup
e. lakukan kompres hangat terbuka

Kunci Jawaban: a. lakukan kompres basah terbuka
Pembahasan:
Pada dermatitis terjadi peradangan pada kulit yang dipicu oleh adanya kontak dengan yang bersifat allergen. Manifestasi klinik yang muncul antara lain: gatal-gatal pada kulit, bruntus kemerahan, krusta, dll. Adanya krusta menimbulkan ketidaknyamanan dan menghambat perbaikan pada kulit sehingga perlu dibersihkan dan dirawat dengan baik. Proses pembersihan krusta pada kulit dilakukan dengan kompress basah terbuka untuk memudahkan dan mempercepat lepasnya krusta dari kulit.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Rospa Hetharia, (2009). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen (p. 54 – 90). Jakarta. Trans Info Media



6. Pada saat memberikan transfusi darah pada pasien anemia. Tiba-tiba pasien mengeluh gatal-gatal pada seluruh badan, pusing, dan menggigil kedinginan.
Apakah tindakan pertama yang akan anda lakukan ketika menghadapi kondisi tersebut?
a. mengukur tanda-tanda vital.
b. menghentikan transfusi darah.
c. memberikan oksigen 2 liter/menit
d. melapor kepada dokter penanggung jawab
e. memberikan obat anti histamin sesuai hasil kolaborasi.

Kunci Jawaban: b. menghentikan transfusi darah.
Pembahasan:
Pasien anemia mengalami kekurangan kadar hemoglobin dalam darah nya akibat berbagai penyebab. Untuk mengatasi nya dilakukan pemberian transfusi darah. Ketika seseorang yang sedang ditransfusi menunjukkan tanda dan gejala pusing, menggigil, dan gata-gatal, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mengalami alergi sehingga langkah pertama yang harus dilakukan perawat adalah menghentikan dulu transfusi darah nyauntuk mencegah reaksi alergi yang lebih berat.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Kardiovaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 151 – 171), Jakarta, CV. Trans Info Media.



7. Seorang laki-laki berusia 24 tahun dirawat di sebuah Rumah Sakit. pasien diduga mengalami HIV (+). Pasien sebelumnya suka mentato tubuhnya dengan jarum suntik, ganti-ganti warna rambut, memperindah diri seperti perempuan. Pasien juga sebelumnya suka sekali ikut di klub malam, mabok-mabokan, berjudi, dan pulang pagi hari. Saat ini pasien merasa khawatir sekali dengan penyakitnya karena merasa semua orang menjauhinya. Pasien mengatakan menyesal akibat kelakuaknnya selama ini. Dari data fisik ditemukan adanya erosi pada mukosa mulut, bercak hitam pada bibir dan makula hiperpigmentosa pada seluruh tubuh.
Apakah prioritas intervensi keperawatan pada kasus di atas?

a. lakukan perawatan luka
b. tingkatkan imunitas pasien
c. cegah terjadinya penularan
d. berikan rasa nyaman kepada pasien
e. berikan dukungan emosi pada pasien

Kunci Jawaban: e. berikan dukungan emosi pada pasien
Pembahasan:
Berdasarkan vignette soal di atas sebenarnya pasien masih diduga menderita HIV (+) tetapi pasien sudah merasa dijauhi teman-temannya sehingga intervensi yang sesuai dengan keluhan di atas adalah memberikan dukungan emosi pada pasien supaya pasien tenang, tidak depresi dan mau mengikuti program pengobatan, sehingga merasa aman dan nyaman serta tidak menulari orang lain.

Rujukan:
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem muskuloskeletal (p.334 – 347), Jakarta, EGC.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3 (p.809 – 825), Jakarta, EGC.
  • Nursalam, Ninuk Dian Kurniawati (2011). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ter infeksi HIV/AIDS (p.14 – 34), Jakarta, PT. Salemba Medika.
  • Setyoadi, Endang Triyanto (2012). Strategi Pelayanan Keperawatan bagi Penderita AIDS (p. 63 – 81). Yogyakarta, Graha Ilmu.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 2 (p.2344 – 2346), Jakarta, EGC.


Sumber : www.perawatkitasatu.com dan Pedoman UKOM Perawat Indonesia

Baca Juga :

Demikianlah artikel kami kali ini yang membahas mengenai Latihan UKOM Keperawatan Indonesia Edisi 191 ini, semoga apa yang telah kami sajikan dan berikan ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan sampai jumpa lagi dipertemuan berikutnya.

0 komentar