Contoh Soal Uji Kompetensi KMB Beserta Kunci Jawaban Edisi 187

10/04/2018 11:59:00 PM

Contoh Soal Uji Kompetensi UKOM) KMB Beserta Kunci Jawaban Edisi  187


Berikut ini adalah Latihan Uji Kompetensi Perawat (UKOM) KMB bagian ke 187 beserta kunci jawabannya serta pembahasannya

Contoh Soal Uji Kompetensi KMB Beserta Kunci Jawaban tahun 2018, 2019, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, 2025
clear our mind from negative thinking, now you shoul get to positive thinking

Hai halo semuanya, sudah lama tidak berjumpa kali ini saya kembali untuk teman-teman memberikan contoh soal-soal Uji Kompetensi Keperawatan terlengkap di Indonesia dan selalunya kami akan update contoh soal Uji kompetensi keperawatan ini yaa, yuk langsung saja disimak contoh soal UKOM KMB dibawah ini :


1. Laki-laki dengan usia 45 tahun dirawat di rumah sakit, karena mengeluh : sesak nafas dan batuk dengan sputum semenjak 5 bulan terakhir dan merasa sudah tidak nafsu makan. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan: pasien terlihat lemas tidak bertenaga, badan kurus kering kerontang, hiperhidrosis di malam hari, dahak kental warna hijau dan  TTV menunjukkan RR = 27 kali/menit, HR = 86 kali/menit, T = 37,5 derajat celsius, TD = 110/70 mmHg.
Apakah prioritas tindakan keperawatan pada kasus di atas?

a. melatih batuk efektif
b. mengatur posisi semi fowler
c. memberikan oksigen melalui nasal canule
d. memberikan nutrisi tinggi kalori dan tinggi protein
e. memberikan penkes tentang cara mencegah penularan.

Kunci Jawaban: c. memberikan oksigen melalui nasal canule
Pembahasan:
Pasien dengan TBC paru mengalami peradangan pada lapisan parenkhim paru akibat infeksi bakteri Mikobacterium tuberculosa yang terbawa melalui droplet. Akibat dari proses infeksi tersebut terjadi pembentukan produksi dahak/sputum yang kental berwarna kehijauan karena bercampur dengan bakteri tersebut atau berwarna kemerahan karena bercampur dengan bercak darah (hemaptoe). Produksi sputum ini merangsang timbulnya batuk yang terus menerus, sehingga terjadilah sesak nafas dan juga dapat menurunkan nafsu makan pasien sehingga berat badan akan menurun (tubuh menjadi kurus). Prioritas kebutuhan pada  kasus sesuai dengan vignette adalah pemenuhan kebutuhan oksigen yang diberikan dengan aliran rendah melalui nasal canule.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 72–98), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Respirasi (p. 155 – 184), Jakarta, CV. Trans Info Media.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3(p.155 – 163), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



2. Seorang laki laki dengan usia 35 tahun dirawat hari ke 2 di RS dengan keluhan sesak nafas setelah makan seafood mentah. Hasil pemeriksaan ditemukan bunyi nafas yang terdengar wheezing, bibir kebiruan, terdapat retraksi interkostal, dan berkeringat dingin. Hasil TTV menunjukkan RR = 31 kali/menit, HR = 76 kali/menit, T = 36,5 derajat celsius, TD = 110/70 mmHg.
Bagaimana pemberian posisi yang tepat untuk mengatasi masalah oksigenasi pasien tersebut

a. Sim kanan
b. Terlentang
c. Lithotomy
d. High fowler
e. Tredelenberg

Kunci  Jawaban: d. High fowler
Pembahasan:
Pada pasien asthma bronchiale terjadi spasmepada daerah bronkhus akibat dari kontak dengan bahan yang bersifat allergen. Brokhospasme dapat  menyebabkan penyempitan jalan nafas atas dan pada akhir nya menimbulkan sesak nafas, wheezing dan peningkatan frekuensi nafas. Salah satu intervensi keperawatan yang harus diberikan adalah pemberian posisi tidur yang tepat yaitu posisi high fowler untuk meningkatkan oksigenasi melalui kapasitas pengembangan rongga dada yang maksimal sehingga sesak nafas berkurang.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172–180), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Respirasi (p.61 – 82), Jakarta, CV. Trans Info Media.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,edisi 3 (p.155 – 163), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



3. Seorang perempuan berusia 42 tahun telah memasuki 4 hari rawat di RS karena alami benturan didaerah dada. Hasil pemeriksaan rontgen menggambarkan hemothoraks. Saat ini pasien telah dipasang WSD untuk mengeluarkan darah dari rongga pleura dan pada slang WSD tidak tampak adanya sumbatan sehingga aliran di slang lancar
Apakah indikator utama dari perawatan pasien tersebut?
a. menurunnya keluhan nyeri dada
b. menurunnya sesak nafas yang dirasakan
c. tidak ada hambatan dalam pergerakan otot dada
d. tidak ada tanda-tanda infeksi pada daerah luka WSD
e. tidak adanya penambahan jumlah darah dalam botol WSD

Kunci Jawaban: e. tidak adanya penambahan jumlah darah dalam botol WSD
Pembahasan:
Pasien dengan trauma/benturan pada daerah dada seringkali mengalami kerusakan jaringan internal di daerah dada termasuk kerusakan dari pembuluh darah dan timbullah perdarahan dari daerah sekitar pleura sehingga darah tersebut akan terkumpul di rongga pleura sehingga terjadilah hemothoraks dan nyeri dada. Adanya hemothoraks akan meningkatkan tekanan udara dalam rongga pleura sehingga pengembangan paru-paru dapat tertekan dan menurun sehingga timbul sesak nafas. Untuk menurunkan tekanan dalam rongga pleura tersebut maka dipasang WSD agar pengembangan paru-paru kembali optimal dan sesak berkurang. Indikator utama dari keefektipan/ keberhasilan setelah 3 hari pemasangan WSD adalah tidak ada nya lagi penambahan dari jumlah darah yang tertampung dalam botol WSD, hal ini menunjukkan bahwa darah yang terkumpul dalam rongga pleura sudah tidak ada, sehingga tekanan dalam paru-paru sudah berkurang dan paru-paru dapat berkembang kembali dengan optimal. Dengan demikian sesuai dengan vignette di atas indikator utama keberhasilan pada pasien yang dipasang WSD adalah tidak adanya penambahan jumlah dar ah dalam botol WSD.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172–180), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Abdul Wahid, Imam Suprapto, (2013). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Respirasi (p.61 – 82), Jakarta, CV. Trans Info Media.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,edisi 3 (p.155 – 163), Jakarta, EGC.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



4. Seorang laki-laki usia 43 dengan riwayat hipertensi semenjak 5 tahun yang lalu dirawat di RS karena mengeluh nyeri kepala dan pusing  terus menerus. Pasien mengatakan orang tuanya juga mengalami hipertensi dan meninggal karena hipertensi. Pasien  memiliki kebiasaan minum kopi, begadang, merokok, dan suka makan makanan yang berlemak dan instan
Manakah dari riwayat atau kebiasaan pasien tersebut yang merupakan faktor resiko hipertensi yang tidak bisa dirubah?

a. kebiasaan makan makanan berlemak
b. kebiasaan minum kopi
c. kebiasaan merokok
d. kurang berolah raga
e. riwayat herediter

Kunci Jawaban: e. riwayat herediter
Pembahasan:
Hipertensi dapat dipicu oleh 2 faktor resiko, yaitu faktor resiko yang tidak dapat dirubah dan faktor resiko yang dapat dirubah. Faktor resiko yang tidak dirubah, yaitu: usia, jenis kelamin, herediter (riwayat orang tua),dan ras serta kepribadian type A. Sedangkan faktor yang dapat dirubah yaitu lebih banyak dari faktor perilaku, yaitu: kebiasaan mero kok, makan makanan tinggi lemak dan tinggi garam, minum minuman beralkohol, minum kopi, kurang olah raga dan stress. Dengan demikian menurut vignette maka Kunci Jawaban yang tepat untuk soal di atas adalah option E.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172–180), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Palmer Anna and William Bryan, (2007). Simple Guide: Tekanan darah Tinggi (p: 14 – 16), Jakarta, Penerbit Erlangga.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



5. Perempuan dengan usia 67 tahun dirawat diruang penyakit dalam karena nyeri dada tiba-tiba ketika sedang jalan-jalan pagi di sekitar rumahnya. Nyeri dirasakan menjalar dari dada kiri dan menyebar ke punggung, nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti ditekan-tekan, nyeri skala 6. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan bunyi jantung tambahan dan irama irreguler.
Apakah jenis pemeriksaan diagnostik yang diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan pada pasien tersebut ?

a. pemeriksaan USG jantung
b. pemeriksaan treadmill.
c. pemeriksaan rontgen
d. pemeriksaan urine
e. pemeriksaan EKG

Kunci Jawaban: e. pemeriksaan EKG
Pembahasan:
Pasien yang mengalami serangan angina pectoris umumnya mengalami nyeri dada yang menjalar dari dada kiri terus ke punggung, intensitasnya makin berat seperti ditimpa beban berat disertai dengan sesak nafas dan tidak hilang dengan diistirahatkan. Untuk memastikannya perlu pemeriksaan diagnostik yaitu EKG.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172–180), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Kardio- vaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 108 – 127), Jakarta, CV. Trans Info Media.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



6. Seorang perempuan dengan umur 68 tahun dirawat hari ke 3 di RS karena mengalami gagal jantung. Klien mengatakan :  kedua kaki terasa berat dan terlihat bengkak, ia cepat sekali lelah dan sesak nafas jika tidur terlentang.
Apakah masalah keperawatan utama pada pasien tersebut?

a. penurunan perfusi jaringan perifer
b. kelebihan volume cairan tubuh
c. penurunan curah jantung
d. gangguan istirahat tidur
e. pola nafas tidak efektif

Kunci Jawaban:c. penurunan curah jantung
Pembahasan:
Pasien gagal jantung mengalami penurunan curah jantung, akibat dari ketidakmampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga suplay ke jaringan menurun timbulah sesak nafas dan mudah lelah. Penurunan curah jantung juga menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik pada pembuluh darah kafiler, hal ini mendorong terjadinya ekstravasasi cairan dari intra vaskuler ke ekstra vaskuler, sehingga terjadi edema pada ekstrimitas.

Rujukan Pustaka :
  • Arif Muttaqin (2008). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pernafasan (p. 172–180), Jakarta, PT.  Salemba Medika.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,edisi 3 (p.155 – 163), Jakarta, EGC.
  • Reny Yuli Aspirani, (2016). Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Kardio- vaskuler: aplikasi NIC dan NOC (p. 108 – 127), Jakarta, CV. Trans Info Media.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 1 (p.584 – 591), Jakarta, EGC.



7. Seorang laki-laki ganteng, jomblo, tinggi, putih, darah campuran bule, bekerja sebagai direktur utama disebuah PT dengan usia 27 tahun dirawat di RS karena keluhan muntah dan BAB cair  lebih dari 20 kali sejak semalam. Keluarga mengatakan ini disebabkan karena pasien suka makan-makanan yang basi, dan tidak hygienis. Pada pemeriksaan fisik tampak: turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, kesadaran lethargi,  tekanan darah 85/50 mmHg, dan frekuensi nadi 110 kali/ menit teraba lemah.
Apakah prioritas rencana keperawatan yang perlu diberikan pada pasien tersebut?

a. lakukan pemberian cairan infus sesuai dengan program medis.
b. berikan minum oralit sebanyak 2 liter
c. observasi tingkat kesadaran pasien.
d. observasi tanda-tanda vital.
e. observasi intake output.

Kunci Jawaban: a. lakukan pemberian cairan infus sesuai dengan program medis.
Pembahasan:
Pasien gastroenteritis mengalami peradangan pada usus halus dan colon nya sehingga meningkatkan peristaltik usus dan menurunkan proses reabsorbsi air dan elektrolit terutama natrium akibatnya pasien akan kekurangan cairan (dehidrasi). Pada vignette soal tersebut, pasien tampak sudah mengalami dehidrasi berat dan mengarah pad kondisi pre syok. Untuk itu prioritas tindakan keperawatan sesuai dengan kasus tersebut adalah pemberian cairan melalui infus sebagai upaya rehidrasi cairan dan elektrolit agar syok hipovolemik dapat dicegah.

Rujukan Pustaka :
  • Rudi Haryono (2012). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Percernaan (p.75 – 81), Yogyakarta, Gosyen Publishing.


Sumber : www.perawatkitasatu.com dan Pedoman Uji Kompetensi Keperawatan Indonesia

Baca Juga :

Baca seluruh soal-soal kami dibagian peta situs ataupun dibagian menu archive untuk belajar contoh soal-soal UKOM lebih banyak lagi.

Demikianlah teman-teman semua perjumpaan kita kali ini tentang Contoh Soal Uji Kompetensi KMB Beserta Kunci Jawaban Edisi  187 ini, semoga apa yang telah kami sajikan dan berikan ini bermanfaat bagi teman-teman semua, aamiin.


0 komentar