Contoh Soal Uji Kompetensi Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban serta Rasional Edisi 192

10/15/2018 02:00:00 AM

Contoh Soal Uji Kompetensi Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban serta Rasional Edisi 192


Berikut ini adalah Latihan Uji Kompetensi Perawat (UKOM) bagian ke 192 beserta kunci jawabannya serta pembahasannya

Contoh Soal Uji Kompetensi Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban serta Rasional Edisi 192 Tahun 2019, 2020, 2021, 2022
keep clam and going to UKOM Indonesia

Hai semuanya apa kabar kalian, jaga kesehatan yaa, karena sebentar lagi akan menghadapi Uji Kompetensi (UKOM), yuk belajarnya semakin ditingkatkan dengan cara terus belajar contoh soal-soal UKOM disini karena kita akan berusaha memberikan yang terbaik bagi teman-teman semuanya. Langsung saja kita pelajari contoh soal dibawah ini


1. Seorang perempuan berusia 22 tahun dirawat di Rumah Sakit dan didiagnosis mengalmai HIV (+). Keluarga mengatakan ia sebelumnya aktif mengkonsumsi narkoba melalui jarum suntik dan meminum minuman keras.  Hasil pengkajian ditemukan adanya erosi dan bercak hitam pada mukosa mulut dan genital,  diare, kesadaran lethargis dan badan tampak kurus.
Apakah indikator evaluasi keperawatan  pada kasus di atas?

a. pasien sembuh dari penyakit nya
b. pasien berhenti menggunakan narkoba.
c. tidak terjadi penularan pada orang lain.
d. tanda dan gejala yang ada pada pasien hilang.
e. pasien tabah dan memiliki harapan yang realistis.

Kunci Jawaban: e. pasien tabah dan memiliki harapan yang realistis.
Pembahasan:
Berdasarkan vignette soal di atas kondisi pasien sudah dalam keadaan terminal, dalam keadaan seperti itu pasien memerlukan perawatan palliative, lebih butuh dukungan psikologis dan spiritual agar pasien dapat tabah, bisa mengambil hikmah dari kehidupan yang sudah dijalani dan memiliki harapan yang realistis terhadap kesembuhan penyakit nya.

Rujukan:
  • Nursalam, Ninuk Dian Kurniawati (2011). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ter infeksi HIV/AIDS  (p.14 – 34), Jakarta, PT. Salemba Medika.
  • Doengoes, Moorhouse, Geissler, alih Bahasa: I Made Kariasa dam Ni Made Sumarwati, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pen dokumentasian Perawatan Pasien,  edisi 3 (p.826 – 835), Jakarta, EGC.
  • Setyoadi, Endang Triyanto (2012). Strategi Pelayanan Keperawatan bagi Penderita AIDS (p. 63 – 81). Yogyakarta, Garha Ilmu.
  • Suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, alih Bahasa: Agung Waluyo, dkk. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, volume 3 (p.1714 – 1752), Jakarta, EGC



2. Seorang laki-laki berusia 70 tahun berobat ke Poliklinik mata karena mengeluh penglihatan mata kanannya terdapat banyak awan hitam tebal dan buram. Ketika diperiksa pasien hanya bisa melihat cahaya.
Berapakah nilai visus mata kanan pasien?

a. 6/6
b. 5/6
c. 3/6
d. 1/6
e. 1/~

Kunci Jawaban : e. 1/~
Pembahasan:
Pasien katarak keluhan umum nya adalah penurunan ketajaman penglihatan (visus). Untuk memeriksanya dilakukan test snellen chart, jika dengan snellen chart tidak bisa dinilai maka menggunakan gerakan tangan dan atau menggunakan rangsangan cahaya (penlight). Interpretasi dari hasil pemeriksaan visus jika pasien hanya bisa melihat cahaya maka nilainya adalah 1/~.

Rujukan:
  • Anas Tamsuri (2012). Klien Gangguan Mata dan Penglihatan (p.53 – 70), Jakarta, EGC.
  • Indriana N. Istiqomah (2001). Asuhan Keperawatan Gangguan Pada Mata (p.19 –39), Jakarta, EGC.



3. Seorang perempuan berusia 70 tahun dirawat di Rumah Sakit setelah menjalani operasi katarak os sinistra. Mata kiri saat ini tertutup verban, pasien kelihatan bingung dan bertanya apa yang harus ia dilakukan setelah operasi, serta khawatir matanya terkena infeksi dan tetap tidak bisa melihat.
Apakah prioritas tindakan yang harus dilakukan perawat pada kasus tersebut?
a. memonitor tanda-tanda vital pasien
b. mengganti verband mata kiri pasien.
c. menganjurkan pasien untuk istirahat
d. memberikan penjelasan tentang perawatan post operasi
e. melaporkan kondisi pasien kepada dokter yang mengoperasinya

Kunci Jawaban: d. memberikan penjelasan tentang perawatan post operasi
Pembahasan:
Pada pasien post operasi katarak ada beberapa hal yang harus dihindari agar tidak menimbulkan komplikasi yaitu: peningkatan tekanan bola mata, infeksi dan ablatio retina. Melihat vignette pada kasus di atas, pasien tampak nya belum tahu tentang perawatan post operasi katarak sehingga tampak bingung dan banyak bertanya.

Rujukan:
  • Anas Tamsuri (2012). Klien Gangguan Mata dan Penglihatan (p.53 – 70), Jakarta, EGC.
  • Indriana N. Istiqomah (2001). Asuhan Keperawatan Gangguan Pada Mata (p.19 –39), Jakarta, EGC.



4. Seorang remaja berusia 17 tahun datang ke Poliklinik THT mengeluh pendengarannya menurun.  Perawat langssng melakukan test garpu tala dengan menggetarkan garpu tala dan meletakan tangkainya pada tulang mastoid dan setelah tidak terasa getarannya segera dipindahkan ke depan telinga, pasien mengatakan ia masih bisa mendengar jelas getaran tersebut.
Apakah interpretasi hasil dari test garpu tala tersebut:

a. Weber (-)
b. Weber (+)
c. Rhinne (-)
d. Rhinne (+)
e. Scwabach (+)

Kunci Jawaban: d. Rhinne (+)
Pembahasan:
Untuk memeriksa ketajaman pendengaran salah satu nya dapat dilakukan dengan test uji garpu. Secara singkat test garpu tala adalah sebagai berikut :

1. Uji Rinne :
a. Garpu tala divibrasikan
b. Pangkal garpu tala diletakkan pada mastoid pasien
c. Pindahkan garpu tala ke depan ke depan telinga, jika pasien sudah tak merasa getaran pada mastoid
d. Catat hasil test :
  • (+) jika setelah dipindahkan klien  masih mendengar bunyi garpu tala.
  • (–) jika setelah dipindahkan klien tidak mendengar bunyi.

2. Uji Weber :
a. Garpu tala divibrasikan
b. Pangkal garpu tala diletakkan pada garis simetris kepala (biasanya di dahi, gigi seri, atau ubun-ubun).
c. Tanyakan pasien merasakan getaran lebih keras yang sebelah mana
d. Catat hasil test :
  • 1) Lateralisasi ke kanan, jika kanan lebih merasakan getaran
  • 2) Lateralisasi ke kiri, jika kiri lebih merasakan getaran.

3. Uji Schwabach :
a. Garpu tala divibrasikan
b. Pangkal garpu tala diletakkan pada mastoid pasien sampai pasien tidak mendengar
c. Pindahkan pangkal garpu tala pada mastoid pemeriksa
d. Catat hasil test :
  • Memendek, jika pemeriksa masih mendengar
  • Jika pemeriksa juga tak mendengar lakukan test balik (uji pemeriksa dulu, kemudian pasien) :
    a. Jika pemeriksa sudah tak dengar, tapi pasien masih dengar maka Schwabach memanjang.
    b. Jika pemeriksa sudah tak dengar dan pasien juga tak dengar maka pasien dalam keadaan normal.

Rujukan:
Rospa Heltharia, Sri Mulyani (2002). Keperawatan Gangguan THT (p.29 – 34), Jakarta, Trans Info Media.



5. Seorang laki-laki berumur 23 tahun datang ke Poliklinik THT dan mengeluh nyeri telinga serta terjadi penurunan pendengaran setelah sebelumnya ia berenang menyeberangi danau sekitar 1 minggu yang lalu. Hasil pemeriksaan fisik dari lubang telinga keluar cairan kuning dan bau, disekitar telinga terasa hangat, daun telinga tampak bengkak dan kemerahan. Pasien juga mengeluh nyeri pada kedua telinganya tersebut. Pasien bertanya kenapa ini bisa terjadi dan malu dengan telinga nya yang mengalami gangguan.
Apakah prioritas masalah pada kasus di atas?

a. cemas
b. nyeri akut
c. kurang pengetahuan
d. gangguan pendengaran
e. gambaran diri menurun

Kunci Jawaban: b. nyeri akut
Pembahasan:
Pada OMA terjadi proses peradangan yang menghasilkan pus berupa cairan kental dan bau pada lubang telinga tengah (meatus akustikus eksterna) sehingga akan menghalangi konduksi suara, akibatnya pendengaran pasien menurun. Respon peradangan/infeksi telinga yang paling dirasakan menganggu adalah nyeri akut pada daerah lubang telinga.

Rujukan:
Rospa Heltharia, Sri Mulyani (2002). Keperawatan Gangguan THT (p.29 – 34), Jakarta, Trans Info Media.



6. Seorang ibu hamil 28 minggu telah dilakukan palpasi leopold 1 sampai 4.  Kemudian ibu tiba-tiba merasakan tidak nyaman pada perutnya. Pada saat dikaji dan dilakukan palpasi teraba kontraksi rahim dan ibu diminta untuk relaksasi nafas dalam dan beristirahat. Ketika selesai kontraksi ibu mengeluhkan kondisi perubahan pada wajahnya terutama pada pipi terdapat bercak kehitaman yang semakin gelap dan banyak.
Apakah perubahan yang terjadi pada wajah ibu tersebut ?

a. Striae lividae
b. Striae albican
c. Linea nigra         
d. Linea alba
e. Cloasma

Kunci Jawaban : e. Cloasma
Pembahasan :
Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada kulit terutama deposit pigmen dan hiperpigmentasi.Chloasma (melasma) sering dikenal dengan topeng kehamilan karena menimbulkan pigmentasi kulit muka terutama disekitar pipi. Melasma berkaitan dengan perubahan hormonal karena muncul pada sebagian besar ibu pada masa hamil. Bila setelah persalinan perubahan warna kulit pada ibu hamil terutama pada wajah yang akan hilang.

Rujukan :
Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K. Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. (Bab 6). Jakarta: Salemba Medika.



7. Seorang ibu muda pada tanggal 15 Oktober 2018 datang ke poliklinik dan mengatakan ia mengalami keterlambatan menstruasi selama 5 minggu. Ibu mengatakan bahwa  pada tanggal 8 September 2018 merupakan awal menstruasi dan sekaligus menstruasi terakhirnya. Ibu sangat penasaran dan ingin mengetahui apakah dirinya benaran hamil atau tidak.
Apakah yang akan anda lakukan pada ibu tersebut?

a. Melakukan pemeriksaan kehamilan melalui pemeriksaan USG
b. Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilan melalui sampel darah
c. Memintanya untuk melakukan pemeriksakan kehamilan melalui sample urin
d. Menyarankan melakukan screening terhadap kemungkinan adanya gangguan reproduksi
e. Menyampaikan kepada ibu menunggu 1 bulan lagi untuk melihat tanda dan gejala lainnya muncul

Kunci Jawaban : c. Memintanya untuk melakukan pemeriksakan kehamilan melalui sample urin
Pembahasan :
Setelah implantasi atau perlekatan hasil konsepsi di dinding rahim, kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) meningkat, HCG dapat dideteksi dalam urin ibu sekitar waktu pertama tidak terjadi menstruasi atau 2 minggu setelah ovulasi dan konsepsi selain itu tidak membutuhkan waktu lama dan biaya murah.

Rujukan :
  • Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. Alih Bahasa, Yati Afiyanti, et. al (2011). Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga Volume 1. (Bab 15), Jakarta: EGC. 
  • Lowdermilk, D.L., Perry, S.E., Cashion, K. Alih Bahasa: Felicia & Anesia (2013). Keperawatan Maternitas Buku I. Ed 8. (Bab 6). Jakarta: Salemba Medika. 
  • Wilkinson, J.M., Ahern, N.R. Alih bahasa, Esty Wahyuningsih (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC  Edisi 9. Jakarta: EGC 


Sumber : www.perawatkitasatu.com dan Pedoman UKOM Indonesia

Baca Juga :
Demikianlah artikel kami ini yang membahas tentang Contoh Soal Uji Kompetensi Keperawatan Indonesia dan Kunci Jawaban serta Rasional Edisi 192, semoga apa yang telah kami sajikan dan berikan ini bermanfaat bagi teman-teman pejuang UKOM dan tetap semangat sampai Uji Kompetensi berlangsung.

0 komentar